Hai sobat ini cerita tentang sahabatku, sahabat yang kini
sudah bahagia disisi-Nya. Maaf aku tidak menyebutkan namanya, yang terpenting
dia adalah sahabatku sejak aku berada di sekolah menengah pertama, dia
sahabatku yang kuat, kuat menghadapi penyakitnya. Dia menderita asma selama
hidupnya. Itu didiagnosa ketika dia masih kecil, lebih kecil dari seorang bayi.
Dia hanya bisa bertahan diumur 16 tahun(1994-2010). Mengenang kembali ke masa
silam yang buruk. Dia benar-benar memuji kemajuan yang telah dicapai dalam
pengobatan asmanya, yang ku pikir dia akan bertahan hidup lebih lama. Dia
biasanya harus menelan serbuk putih berasa buruk yang membuatnya merasa sakit
selama beberapa jam. Dia meminum pil yang membuatnya bergetar. Pompaan aspaxadrine,
yang dia gunakan secara harian, akan mengembalikan berbagai ingatan asmatis
selama hidupnya. Peralatan itu lebih menyerupai peralatan kompleks yang terbuat
dari kaca dan karet. Dia masukkan sebuah larutan kedalamnya dan memeras
pegangan karet untuk membuat uap. Lagi, larutan ini benar-benar alat yang
membuat dia gemeteran. Ketika benar-benar sakit, dia harus menjalani pengobatan
panjang menggunakan steroid. Dia harus menjalani pengobatan itu selama sekitar
delapan tahun dan untungnya dia tidak banyak menderita efek samping. Dia
menjadi kurus dan mudah memar waktu memasuki kelas 3 SMP (2008), yang kata
dokternya adalah akibat dari jumlah steroid yang harus dia konsumsi.
Dia
adalah salah satu dari kebanyakan anak-anak yang sakit yang biasanya digambarkan
dalam cerita fiksi sebagai peliharaan guru. Faktanya, dia nyaris tahu setiap
guru karena dia harus tinggal ditempat tidur selama satu bulan kalau kambuh,
ditahan oleh bantal dan nafas yang tidak konstan dengan bunyi menciut. Dia
melewatkan banyak hari-hari sekolah. Untuk memperoleh pengetahuan umum yang
bagus dia harus berjuang keras agar tidak tertinggal dikelasku dan dia karena
selama SMP aku dan dia selalu satu kelas dan tempat duduk ku dan dia selalu
berdekatan pasti depan belakang. Dia adalah anak dengan keinginan yang kuat dan
dia berhasil meraih ijasah SMP, walaupun hari terakhir UAN dia harus terbaring
lagi ditempat tidur dirumah sakit yang biasa dia tempati.
Teman-teman
sekolahku mengingat dia sebagai teman kelas yang tidak pernah ada dikelas dan
dia sangat mengingat teman-temannya yang harus berdoa untuk kesembuhannya
selama masa-masa dia tidak sehat. dia berkumpul dengan orang tuanya yang diberitahu
oleh dokter bahwa dia beruntung kalau bisa hidup hingga masa dewasa.
Sebagian
besar kenangan awal hidupnya diwarnai oleh asma yang kronis. Dengan melihat
kebelakang, dia menyadari betapa berat bagi orang tuanya dan juga keluarganya
yang lain. Penyakitnya tentu membatasi aktivitas keluarganya. Bila kakek dan
neneknya tidak bisa menjaganya, salah seorang dari orang tua nya harus
menjaganya, sementara orang tua nya satunya pergi keluar untuk bekerja, karena
dikeluarganya dia adalah anak satu-satunya, dia tidak mempunyai saudara
kandung.
Seminggu
sebelum kepergiannya dia sempat mengajak ku main band seperti biasa tetapi aku
menolak karena waktu itu aku sedang tidak enak badan. Dan saat dia pergi untuk
selamanya aku diberi tahu oleh temanku yang menjadi kekasih dari teman ku itu.
Dia meninggal jm 21.00 dimalam kamis, aku sama sekali tidak bisa langsung
kesana sedangkan aku dirumah sendiri dan rumahnya lumayan jauh, kalau aku
kesana malam itu juga dipastikan aku sama sekali tidak berani, posisinya aku
masih kelas 1 smk dan apa kata tetangga kalau jam segitu aku pergi malam-malam.
Dan aku datang sepulang sekolah dan aku sama sekali tidak bisa melihat dia
untuk yang terakhir kalinya. Dia telah dikebumikan malam itu juga.
Dia
adalah sahabatku yang kuat, dia selalu semangat dalam hidupnya. Dia tidak
pernah hanya bermalas-malasan diatas kasur, dia selalu aktif disekolah dan
diluar sekolah. Sering kali aku bertengkar dengan dia karena dia sering keras
kepala, dia merokok itu yang selalu membuat aku marah. Dia sering kali setelah
merokok nafasnya mulai menciut dan batuk tapi masih saja melakukan hal bodoh
itu. Bahkan badannya terlihat lebih kurus jika dia habis dari rumah sakit,
sampai ayahnya memberikan dia bir hitam agar badannya terlihat agak gemukan.
Sahabatku yang kuat, selamat jalan, semoga kau selalu bahagia disisi-Nya. Amin
@luckywahyono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar